SEJARAH KONFLIK RI
NOVEMBER 12, 2021
Serangan Balas 1947 – bag. 1
SOETARDJO SIGIT
Ini adalah tulisan bagian pertama dari kisah Serangan Balasan 1947 yang dilakukan oleh para penerbang Indonesia kepada pasukan Belanda. Ditulis sendiri oleh pelaku sejarahnya, seorang pilot AURI, Soetardjo Sigit.
Sejak dimulainya Clash I oleh fihak Belanda pada tanggal 21 Juli 1947, pesawat-pesawat Belanda secara bertubi-tubi menyerang semua pangkalan AURI yang ada, sehingga menjelang tanggal 29 Juli, yaitu tanggal dilakukannya serangan balas oleh pesawat-pesawat AURI, kita tinggal mempunyai empat pesawat terbang, sisa dari sekian banyak yang telah kita sebarkan di pangkalan-pangkalan Maguwo, Bugis (Malang), Maospati, Tasikmalaya dan Kalijati.
Sebelum serangan mendadak (surprise attack) oleh Belanda tersebut, kita mempunyai sekian banyak pesawat Jepang sisa Perang Dunia ke II, yang antara lain terdiri dari berbagai tipe seperti : Churen, Cukiu, Nishikoren, Guntai, Hayabusha serta dua buah pesawat pembom yang diberi nama Pangeran Diponegoro I dan Pangeran Diponegoro II.
Tipe-tipe tersebut semuanya telah dapat diperbaiki dan disiapkan oleh para teknisi AURI untuk kemudian berhasil diterbangkan oleh putra-putra Indonesia, yaitu para penerbang AURI, baik yang bekas didikan Belanda maupun yang dididik sendiri oleh Pak Adisoetjipto, Pak Iswahjoedi dan Pak Wirjosapoetro.
Trio tiga instruktur yang secara akrab kita panggil : Mas Tjip, Mas Is dan Mas Wir inilah yang paling berjasa dalam menyiapkan penerbang-penerbang AURI dari pemuda-pemuda yang sudah pernah belajar terbang di zaman Belanda maupun yang masih “hijau” sama sekali seperti : saya sendiri, Soeharnoko, Moeljono, Bambang Saptoadji, Soedarjono (adik kandung Mas Tjip), Soehodo, Soehanto, Goenadi, dll.
Dari sekian tipe pesawat itu yang paling banyak jumlahnya ialah pesawat Churen (lebih dari 40 pesawat di Maguwo saja), disusul oleh Chukiu, Nishikoren dan Guntai, sedangkan Hayabusha, Pangeran Diponegoro I dan Pangeran Diponegoro II masing-masing hanya sebuah pesawat. Ada lagi sebuah pesawat yang canggih (untuk waktu itu) yang bentuknya seperti pesawat tempur Messerschimdt Jerman, yang ternyata bermesin Daimler-Benz (Jerman), Pesawat yang nama Jepangnya kalau tak salah : Raiden ini tidak pernah berhasil kita perbaiki /siapkan untuk diterbangkan, karena agaknya orang-orang Jepang tidak pernah membolehkan mekanik Indonesia untuk memegang pesawat tersebut.
Beberapa bulan sebelum pecahnya Clash ke I, oleh pimpinan AURI telah diputuskan untuk ‘menyebar’ para penerbang maupun sebagian dari pesawat-pesawatnya ke pangkalan-pangkalan : Bugis, Maospati, Maguwo, Tasikmalaya dan Kalijati. Hal tersebut adalah dalam rangka pengamanan jangan sampai senuanya habis dalam sekali pukul oleh Belanda. Waktu suhu politik mulai memuncak menjelang Clash ke I, kita mulai mengambil langkah-langkah pengamanan terhadap pesawat-pesawat terbang dengan menyembunyikannya di bawah pohon-pohon di pinggiran kampung-kampung di sebelah Selatan landasan. Pagi-pagi sekali para mekanik mengeluarkan pesawat-pesawat dari tempat persembunyiannya untuk dicheck dan dipanaskan (di-run up) kemudian diterbangkan sesuai dengan kebutuhan.
Pada saat-saat itu yang secara tetap di tempatkan di Maguwo hanyalah dua orang dari “Penerbang Junior”, yaitu Moeljono dan saya sendiri. Mas Tjip bersama dua orang “Penerbang Senior” lainnya yaitu Pak Karbol (Dr. Abdurrachman Saleh) dan Mas Iswahjoedi sementara ditarik dari Bugis dan Maospati, dilatih oleh Mr. Patnaik untuk menerbangkan pesawat Dakota VT-CLA. Jadi tidak terlampau banyak kegiatan terbang di Maguwo waktu itu. Apabila pesawat VT-CLA pergi ke luar negeri menerobos blokade Belanda, kegiatan terbang di Maguwo hanya dilakukan oleh saya dan Moeljono dan kadang-kadang diramaikan oleh kedatangan para penerbang yang ditempatkan di “dareah” (di luar Maguwo).
Demikianlah keadaan di pangkalan Maguwo menjelang 21 Juli 1947 : pesawat yang terlihat hanyalah yang sedang terbang atau didarat yang sedang disiapkan untuk kami terbangkan. Untuk selebihnya semuanya ditempatkan ditempat persembunyiannya masing-masing. Pada tanggal 21 Juli 1947, saya dan Moeljono sedang siap-siap untuk berangkat dari Mess AURI di Hotel Tugu ke Maguwo ketika kami dengar suara letusan dan dentuman bersamaan dengan raungan mesin-mesin pesawat terbang musuh.
Waktu kami datang di Maguwo masih menyaksikan 6 buah pesawat yang sedang terbakar, terdiri atas Cukiu, Nishikoren dan beberapa Churen, yang sebagian besar tinggal puing dan abu belaka. Pesawat-pesawat tersebut subuh hari itu dikeluarkan dari persembunyiannya dan sedang diperiksa dan di-run up waktu tiba-tiba pesawat musuh datang menyerang. Suatu “Sneak-attack” yang cukup memukul kita. Terlebih-lebih serangan mereka datang bergelombang.
Gelombang yang terakhir untuk hari itu, yang kelima kalau tak salah, datang menjelang maghrib waktu kita mengira sudah tidak akan ada serangan lagi. Ternyata mereka datang lagi menemukan pesawat-pesawat kita yang sedang di-run up “like sitting ducks”, kali ini kerugiannya lebih besar disamping beberapa Chukiu dan Churen, juga ikut hancur satu-satunya pembom yang tersisa, yaitu Pangeran Diponegoro I, yang beberapa hari sebelumnya di terbangkan dari Malang oleh Pak Karbol (Pangeran Dipenogoro II rusak total karena “crash-landing” beberapa bulan sebelumnya).
Hampir setiap hari pangkalan Maguwo didatangi pesawat musuh, selang-seling antara yang mengintai (B-25) dan yang menyerang (P-40, Kitty Hawk). Dalam main “kucing-kucingan” dengan musuh itu pada hari-hari berikutnya kita masih mengalami beberapa kerugian lagi, sehingga akhirnya tinggal tersisa 4 buah pesawat terdiri dari 2 Churen, 1 Guntai dan 1 Hayabusha. Laporan-laporan lewat radio mengabarkan bahwa semua pangkalan diluar Maguwo juga ikut diserang dan bahkan Kalijati dan kemudian Bugis telah direbut oleh pasukan Belanda. Secara beruturut-turut para penerbang yang ditempatkan di pangkalan-pangkalan di daerah mulai berdatangan dan semuanya lewat jalan darat karena pesawat-pesawat mereka keburu dihancurkan oleh serangan Belanda.
Mereka adalah Bambang Saptoadji dari Kalijati, Soeharnoko dari Madiun (Maospati), Goenadi dan Soedarjono dari Bugis (Malang) dan Soenarjo dari Tasikmalaya. Sejak tanggal 21 Juli itu semua penerbang termasuk yang kemudian berdatangan dari daerah dikosigneer di Maguwo, tidak diperbolehkan meninggalkan kompleks pangkalan. Kalau siang kita stand-by di Maguwo, malamnya tidur di kompleks perkantoran di Wonocatur, didalam salah satu ruangan yang cukup untuk menampung kita semua. Karena keadaan serba darurat, kita terpaksa tidur diatas meja-meja tulis serta kursi-kursi yang ada di ruangan tersebut. Saya sendiri kebagian lima buah kursi yang saya jejerkan rapat kedinding, dengan parachute (payung udara) saya sebagai bantal.
Selama Consignatie itu kita dapat menyaksikan dari dekat bagaimana dahsyatnya serangan yang dilakukan oleh pesawat-pesawat Belanda itu. Pada setiap gelombang dikerahkan 4 buah Kitty Hawks, yang dengan sebuah manuver yang disebut “lazy eights”, mereka secara dua-dua bergantian menembak dengan meriam 20 mm serta senapan mesin 12,7 mm. Kegesitan serta kelincahan mereka menerbangkan pesawatnya memang bisa kita maklumi mengingat bahwa mereka adalah penerbang-penerbang veteran dari Perang Dunia II. Patut dibanggakan bahwa para anggota PPP (Pasukan Pertahanan Pangkalan) dengan gigihnya menyambut serangan tersebut dengan senjata penangkis mereka yang berupa meriam 30 mm serta senapan mesin 12,7 mm.
Pada tanggal 28 Juli 1947 pimpinan AURI meminta empat orang volunteers (sukarelawan) dari para penerbang yang dicongsigneer itu, karena telah diputuskan bahwa kita akan mengadakan serangan balas terhadap Belanda.
(bersambung di bagian kedua)
artikel terkait