SEJARAH JAWA
JULY 26, 2023
Raden Wijaya : Kisah Hidup Sang Maharaja
Raden Wijaya, sang pendiri Kerajaan Majapahit pada tahun 1293, memiliki kisah hidup yang berliku dan penuh perjuangan.
Raden Wijaya atau Raden Vijaya (juga dikenal sebagai Nararya Sanggramawijaya, nama kerajaan Kertarajasa Jayawardhana), memerintah 1293–1309, adalah seorang kaisar Jawa, pendiri dan raja pertama Kerajaan Majapahit.
GARIS LELUHUR
Terdapat beberapa versi mengenai garis leluhurnya.
Menurut Kitab Pararaton, Raden Wijaya adalah putra dari Mahisa Campaka, pangeran dari Singasari.
Menurut sumber kontroversial dari abad ke-17, Pustaka Rajya Rajya Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra Rakeyan Jayadarma (putra Raja Sunda-Galuh Prabu Guru Darmasiksa) dan Dyah Lembu Tal (putri Mahisa Campaka dari Singasari).
Kala itu Rakeyan Jayadarma diracun dan setelah kematian suaminya, Dyah Lembu Tal kembali dari Kerajaan Sunda-Galuh ke Singasari bersama Raden Wijaya.
Namun dalam versi Nagarakretagama, Dyah Lembu Tal, juga dikenal sebagai Dyah Singhamurti, adalah cicit dari Ken Arok, Raja Singasari (1222–1227) dan Ken Dedes (Nara Singhamurti).
Karena Nagarakretagama ditulis pada tahun 1365, hanya 56 tahun setelah wafatnya Raden Wijaya, pendapat publik mendukungnya dan versi inilah yang dinilai paling tepat sampai saat ini.
SILSILAH PERNIKAHAN
Dalam masa pemerintahan Raja Kertanegara di Singasari, Raden Wijaya menikahi beberapa putri dari Kertanegara dan menjadikannya menantu dari sang raja.
Menurut kitab Negarakertagama disebutkan bahwa Raden Wijaya menikah dengan empat putri Kertanegara, yaitu Gayatri, Jayendra Dewi, Narendra Duhita dan Tri Bhuvaneswari.
Namun dalam Kitab Pararaton disebutkan bahwa Raden Wijaya hanya menikah dengan dua putri Kertanegara.
Selain itu Raden Wijaya juga menikah dengan seorang putri dari Kerajaan Dharmasraya dari Sumatera bernama Dara Petak. Dari pernikahannya dengan Dara Petak, Raden Wijaya memiliki seorang putra yang diberi nama Jayanegara.
Dengan selirnya, Gayatri, Raden Wijaya memiliki dua orang putri, yaitu Dyah Ditarja atau dikenal juga dengan Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Dyah Wiyat atau dikenal dengan Rajadewi Maharajasa.
Jayanegara sebagai putra dari Raden Wijaya selanjutnya meneruskan ayahnya sebagai raja kedua Kerajaan Majapahit. Sedangkan Tribhuwana Wijayatunggadewi kemudian menjadi penguasa ketiga di Kerajaan Majapahit.
PEMBERONTAKAN JAYAKATWANG
Pada tahun 1289, Kubilai Khan mengirimkan permintaan upeti kepada Kerajaan Singasari, permintaan tersebut ditolak oleh Kertanagara. Tidak hanya itu, utusannya dipermalukan dengan telinganya dipotong.
Pada tahun 1292 terjadi pemberontakan terhadap Kerajaan Singasari yang diprakarsai oleh Bupati Gelang-gelang (sekarang Madiun), Jayakatwang.
Raja Kertanegara memerintahkan menantunya, Raden Wijaya, untuk memimpin pasukan Singasari menangkal serangan pasukan Jayakatwang. Namun pergerakan pasukan itu hanya siasat dari Jayakatwang saja.
Jayakatwang yang licik segera mengirimkan pasukan yang lebih besar ke Singasari. Karena sebagian besar pasukan militer Singasari yang dipimpin oleh Raden Wijaya tidak pernah kembali, pasukan kedua Jayakatwang akhirnya berhasil merebut istana Singasari dan menewaskan Raja Kertanegara.
PENDIRIAN MAJAPAHIT
Pasukan Raden Wijaya yang mendengar kabar itu kemudian terpecah dan bersama beberapa pengikut setianya, Raden Wijaya mengamankan dirinya bersama ketiga sahabatnya : Nambi, Sora dan Ranggalawe. Mereka ditampung kemudian oleh Arya Wiraraja, penguasa Sumenep, Madura.
Dalam persembunyiannya, Raden Wijaya mendapat nasehat dari Arya Wiraraja untuk kembali ke Singasari dengan dalih ingin mengabdi kepada Jayakatwang. Dengan cara itulah, Jayakatwang menerimanya dan memberinya sebuah kawasan yang disebut Hutan Tarik.
Raden Wijaya lalu membabat Hutan Tarik dan mengubahnya menjadi perkampungan. Disitulah Raden Wijaya menemukan buah maja yang rasanya sangat pahit dan menimbulkan inspirasi untuk memberi nama desa itu Majapahit.
Meski mengaku akan mengabdi, Raden Wijaya tetap menyimpan dendam terhadap Jayakatwang dan dia mendapat kesempatan ketika pasukan Mongol kiriman Kubilai Khan datang untuk menghukum Kertanegara. Namun karena Kertanegara telah meninggal, 20.000 pasukan Mongol itu diundang oleh Raden Wijaya untuk bekerja sama menyerang Jayakatwang.
Raden Wijaya mengaku jika menang, mereka akan tunduk kepada Kublai Khan. Namun setelah berhasil menyingkirkan Jayakatwang, Raden Wijaya langsung menyerang pasukan Mongol. Serangan mendadak itu kemudian membuat pasukan Mongol kocar-kacir dan meninggalkan Jawa saat itu.
PENOBATAN SANG RAJA
Setelah berhasil menghancurkan Jayakatwang dan mengusir pasukan Mongol, Raden Wijaya kemudian mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit pada tahun 1293 dengan pusat pemerintahan di Mojokerto.
Lokasi tersebut berada di dekat Sungai Brantas yang airnya mengaliri beberapa wilayah di Jawa Timur, seperti Blitar, Malang, Tulungagung, Jombang dan Kediri.
Raden Wijaya kemudian menjadi raja pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana dari tahun 1293 sampai 1309.
Menurut Kitab Negarakertagama, Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 setelah 16 tahun memerintah dan menguasai Kerajaan Majapahit.
Ia dimakamkan di Candi Simping sebagai “Harihara”, yang merupakan perpaduan antara dewa Wisnu dan Siwa. Raden Wijaya kemudian digantikan oleh putranya Jayanegara sebagai raja kedua Majapahit.
related post