SEJARAH
JUNE 12, 2021
sejarah ibu kota jakarta
Sejarah ibu kota Jakarta memiliki cerita panjang dari lebih seribu tahun. Kota ini menjadi perebutan banyak penguasa di masa lampau. Tercatat setidaknya dari jaman kerajaan nusantara seperti Tarumanegara, Sunda Hindu, Kesultanan Banten dan pemerintahan negara Portugis, Belanda, Jepang dan kini Indonesia bergantian menduduki wilayah ini.
Kota yang menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan ini pada mulanya bernama Sunda Kelapa. Kota pelabuhan ini sebelumnya diduduki oleh pasukan Portugis, namun pada tanggal 22 Juni 1527 Pangeran Fatahillah dari Demak menyerbu dan menghancurkannya lalu mendirikan kota baru yang diberi nama “Jayakarta” di bekas kota lama.
Dari kata Jayakarta, yang berasal dari bahasa Sansekerta ini, lahirlah nama “Jakarta” yang merupakan kependekan dari kata tersebut. Nama ini dicetuskan oleh para pengikut Fatahillah dari Demak dan Cirebon.
Jayakarta berarti “Kota Kemenangan” – dipilih karena pasukan Fatahillah berhasil mengusir pasukan Portugis yang kala itu menguasai kerajaan Padjajaran. Tanggal 22 Juni selanjutnya ditetapkan sebagai tanggal lahirnya kota Jakarta sampai saat ini.
Ilmuwan Portugis, Joao de Barros (1496-1570) mencatat bahwa Fatahillah disebut juga sebagai Falatehan dalam bahasa Portugis.
Penelitian para ahli sejarah menemukan bukti-bukti sejarah dari kota Jakarta yang berasal dari mulai abad ke-4 Masehi. Kala itu kota ini adalah pelabuhan dan permukiman Hindu. Antara tahun 397 – 1527 wilayah itu masih bernama Sunda Kelapa dan merupakan kekuasaan kerajaan Hindu. Lokasinya terletak di muara Sungai Ciliwung dengan ibu kotanya bernama Dayeuh Pakuan Padjajaran.
Ketika Belanda masuk ke Nusantara dan mengusai seluruh wilayahnya, kota Jakarta diganti namanya menjadi “Batavia”. Nama ini dipakai sejak tahun 1621 sampai dengan 1942. Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan Hindia Belanda jatuh, nama kota dikembalikan menjadi Jakarta oleh Jepang sebagai bagian dari gerakan de-Nederlandisasi.
Nama Batavia digunakan oleh penjajah Belanda untuk menyiratkan kejayaan nenek moyang mereka. Sebutan ini berasal dari suatu nama etnis Jermanik yang tinggal di sekitaran sungai Rhein (sekarang wilayah Jerman) yang dinilai sebagai leluhur bangsa Belanda dan Jerman.
Untuk mengenang dan menghormati leluhurnya itulah Belanda kemudian menyematkan nama Batavia sebagai pengganti Jakarta.
Sejarah ibu kota Jakarta terus berlanjut di masa kemerdekaan. Soekarno, yang kemudian menjadi presiden pertama Indonesia, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah itu Jakarta pun ditetapkan menjadi ibu kota negara Indonesia.
Meskipun sempat berpindah sementara ke Jogjakarta selama clash dengan tentara Belanda, Jakarta kembali menjadi ibu kota negara setelah situasi kembali normal sampai saat ini.
Di era kemerdekaan, Jakarta berkembang sangat pesat. Pertumbuhan ekonomi dan perdagangan melesat tajam diiringi pembangunan infrastruktur diseluruh wilayah DKI Jakarta. Hal ini membuat Jakarta menjadi magnet kuat bagi para pendatang dari daerah lain di Indonesia.
Gelombang pendatang terus berjalan setiap tahun, sementara daya tampung Jakarta terbatas. Hal ini menimbulkan banyak masalah sosial baru seperti kriminalitas, perebutan lapangan kerja dan luas wilayah tempat tinggal yang semakin menyempit serta menurun kualitasnya. Ditambah lagi dengan problem lain seperti kemacetan parah dan banjir musiman yang belum ada solusi terbaik.
Semua ini memunculkan wacana untuk memindahkan ibu kota ke wilayah baru yang lebih nyaman dan kondusif. Sebetulnya sudah ada rencana untuk memindahkan ke wilayah di Kalimantan pada tahun 2019. Hal ini diikuti dengan perencanaan infrastruktur modern untuk menunjang kegiatan pemerintahan di lokasi baru.
Namun setelah timbul pandemi global COVID-19 tahun 2020 rencana ini untuk sementara ditangguhkan karena fokus pemerintah Indonesia berubah menjadi penanggulangan pandemi yang memerlukan dana besar dan perhatian serius.
artikel terkait