Serangan Balasan 1947 – bag. 2

SEJARAH KONFLIK RI

NOVEMBER 13, 2021

Serangan Balas 1947 – bag. 2

SOETARDJO SIGIT

Serangan Balasan 1947
Soetardjo Sigit

Bagian kedua dari kisah serangan balasan 1947 Indonesia ke Belanda yang diceritakan oleh pelaku sejarahnya, Soetardjo Sigit.

Pada malam harinya, empat penerbang yang mencalonkan diri yaitu : Moelyono, Bambang Saptoadji, Soeharnoko Harnbani dan saya sendiri Soetardjo Sigit, dipanggil ke MBAU (Markas Besar Angkatan Udara) untuk mendapatkan “briefing”. Kami tiba di MBAU kira-kira jam 20.00 (jam 8 malam). Disana sudah menunggu Pak Suryadharma (Kepala Staf Angkatan Udara), Mas Halim Perdanakusuma, serta sejumlah perwira staf AU lainnya.

Setelah KSAU memberi sambutan singkat, yang pada intinya menyatakan bahwa serangan balas yang akan kami lakukan itu sangat diperlukan untuk mengobarkan lagi semangat perjuangan rakyat dan bangsa Indonesia., maka mas Halim Perdanakusuma mulai memberi “briefing”nya. Pokok-pokoknya adalah :

  1. Sasaran dan serangan balas kita adalah kedudukan-kedudukan musuh di Semarang dan Salatiga.
  2. Empat pesawat terbang yang masih selamat yaitu satu pembom-tukik (dive bomber) Guntai, satu fighter-trainer Hayabusha dan dua pesawat latih-dasar (basic trainer) Churen yang telah kita gunakan sebagai primary-trainers semuanya akan dikerahkan untuk serangan balas tersebut.
  3. Moelyono ditugaskan menyerang Semarang dengan pesawat Guntai dikawal oleh Bambang Saptoadji dengan pesawat Hayabusha.
  4. Saya ditugaskan menyerang Salatiga bersama Soeharnoko Harbani, masing-masing menerbangkan pesawat Churen. Saya bertindak sebagai Flight Leader dan Soeharnoko sebagai Wingman.
  5. Berhubung ada laporan bahwa satuan pengintai dan pasukan Belanda telah masuk kota Boyolali, maka kami berempat diinstruksikan untuk menghindari kota tersebut. Kami tidak boleh terbang langsung menuju sasaran, tetapi harus membuat “dog leg” (paha anjing atau garis bengkok) yaitu pertama-tama harus kearah Timur untuk sekian menit kemudian baru belok ke kiri menuju sasaran. Rute masing-masing kelompok pesawat telah di-“plot” oleh Mas Halim Perdanakusuma (yang sebagai navigator RAF/Royal Air Force mempunyai pengalaman dalam Perang Dunia ke II.
  6. Untuk membela diri, pesawat-pesawat Guntai dan Churen akan dilengkapi dengan senapan mesin dan “airgunnernya” yang sekaligus merangkap sebagai “bombardier” yang akan melemparkan bom-bom bakar (incendiaries); juga diinstruksikan apabila serangan telah selesai untuk segera terbang langsung kembali ke Maguwo dengan terbang serendah mungkin (treetop) dan “hedge-hopping”. Taktik ini dipakai untuk mengurangi ruang gerak pesawat musuh yang jauh lebih tinggi kecepatannya apabila mereka mengejar dan mau menyergap kami.
  7. Senjata utama kami untuk menyerang adalah bom-bom seberat 50 kg yang berupa “brisant boomer” (fragmentation bombs) sebanyak 6 buah untuk Gunta dan masing-masing 2 buah untuk setiap Churen. Bom-bom ini digantungkan pada rak-rak dibawah sayap pesawat. Disamping itu pada pesawat Guntai ada dua buah senapan mesin disayap dan pada Hayabusha ada dua di “hidung” pesawat yaitu diatas Cowling mesin dan tembakannya menerobos putaran baling-baling. Senapan-senapan mesin ini merupakan “fixed machineguns” yang ditembakkan oleh penerbang.
  8. Take off ditetapkan jam 05.00 (jam lima pagi).

Selesai briefing kami langsung ke Maguwo untuk memeriksa persiapan-persiapan yang sedang dikerjakan pada pesawat-pesawat yang akan kami pakai keesokan harinya. Dibawah sinar-sinar lampu yang terang berlangsung suatu kesibukan yang luar biasa pada masing-masing pesawat. 

Para teknisi sibuk memeriksa mesin serta badan pesawat dan instrumen-instrumennya. Teknisi persenjataan sibuk memasang rak-rak penggantung bom dibawah sayap serta mencoba dan memeriksa alat pelepasnya (release mechanism). Juga memasang “gunmounting” (kaki senapan mesin) di cockpit belakang Guntai serta Churen. Namun sial bagi saya, pada pesawat yang akan saya pakai Tj-64 ternyata tidak dapat dipasang gunmounting tersebut, pesawat saya sama sekali  tidak akan dapat membela diri apabila disergap musuh. Sebagai gantinya saya akan diberi “bekal” yang lebih : jatah bom-bom pembakar yang harus saya bawa akan ditambah jumlahnya !

 Semua pesawat dapat diselesaikan persiapannya dengan baik terkecuali Hayabusha yang akan dipakai Bambang. Sistem sinkronisasi antara tembakan senapan-senapan mesinnya dengan putaran baling-balingnya ternyata tidak dapat diperbaiki sehingga sangat membahayakan. Agaknya para teknisi kita pada waktu itu belum menguasai teknik perbaikannya. Kami tunggu sampai menjelang jam dua pagi tapi masih belum berhasil  sehingga akhirnya mission Bambang Saptoadji untuk mengawal Moeljono dibatalkan. 

Kami kembali ke Wonocatur untuk istirahat sebentar. “Tempat tidur” saya yang berupa lima buah kursi kantor yang saya jejerkan serta “bantal” yang berupa parachute, tidak membantu saya untuk dapat tidur, ditambah berbagai pikiran tentang tugas yang akan kami hadapi. 

Tiba-tiba saja teringat oleh saya pada jam 02.30 tanggal 29 Juli 1947 bahwa kemarin harinya, tanggal 28 Juli 1947 saya genap berusia 20 tahun. Tidak dapat saya cegah timbulnya sebuah pertanyaan dalam benak saya “Akan masih adakah tanggal 28 Juli bagiku dikemudian hari ?” Tapi pikiran tersebut segera saya hilangkan dengan sikap pasrah dan menyerahkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Setelah akhirnya terlelap sebentar kami dibangunkan jam 03.30 dan pada jam 04.30 kami sudah siap di Maguwo. Bambang Saptoadji yang missionnya dibatalkan masih saja membujuk kami untuk digantikan olehnya tapi kami terpaksa mengecewakannya.

Tak lama kemudian datang Pak Soerjadharma bersama Mas Halim Perdanakusuma serta sejumlah perwira lainnya antara lain Mas Djono “Godeg” (karena bercambang) dan Mas Roeslan, yaitu dua perwira yang bersama Mas Halim bergabung ke AURI setelah datang kembali dari luar negeri selama Perang Dunia ke II. Setelah pesan-pesan terakhir dari Pak Soerja dan Mas Halim kami bertiga pamit dan menuju pesawat kita masing-masing.

Kira-kira jam 05.00 kami mulai “taxi out” ke posisi take off diujung landasan sebelah Barat. Keadaan gelap gulita tapi cuaca baik sekali dan banyak bintang terlihat di langit.

(bersambung di bagian ketiga)

artikel terkait

Comments System WIDGET PACK