KEMERDEKAAN RI
NOVEMBER 20, 2021
Sejarah Singkat Perjoangan “Indonesian Airways” Di Burma – bag. 1
SOETARDJO SIGIT
Kisah perjuangan para perwira AURI mendukung kemerdekaan Indonesia di luar negeri tahun 1948. Ditulis langsung oleh pelaku sejarahnya, Soetardjo Sigit.
A. Pendahuluan
“INDONESIAN AIRWAYS” didirikan pada tahun 1949 oleh perwira-perwira AURI (ANGKATAN UDARA REPUBLIK INDONESIA) yang waktu itu berada di India, dibantu oleh Kedutaan Besar RI di India serta perwakilan RI di Rangoon, Burma. Sejarah penerbangan “INDONESIAN AIRWAYS” di Burma itu merupakan sejarah perjuangan perwira-perwira AURI tersebut diatas dengan modal awal yaitu RI-001 “SEULAWAH” yang berkat keberhasilannya kemudian berkembang menjadi tiga buah pesawat dengan dibelinya dua pesawat DC-3 yaitu RI-007 serta RI-009.
Pengiriman RI-001 “SEULAWAH” ke India pada tanggal 1 Desember 1948 berangkat dari Jogja adalah dalam rangka penyiapan pesawat terbang untuk evakuasi Pemerintah Republik Indonesia (Presiden + Kabinet) ke India, kalau sampai diperlukan.
Untuk keperluan tersebut pesawat perlu diberi warna kamuflase (camouflage painting) serta tangki jarak jauh (long range tanks) disamping menjalani “overhaul” mesin-mesinnya.
Penerbangan RI-001 “SEULAWAH” ke India dimulai dari pangkalan udara Maguwo pada tanggal 1 Desember 1948 pada pagi hari sebelum fajar, dengan awak pesawat :
Captain : J.H. Maupin
Captain : J. Tate
First Officer Opsir Oedara III : Soetardjo Sigit
Radio Operator : Wollinsky
Radio Operator : Letnan Muda Udara Soemarno
B. Penerbangan RI-001 “SEULAWAH” ke India
Pada bulan Mei 1948, saya di tempatkan di Bukitinggi setelah pulang dari Filipina. Moeljono, Soeharnoko dan saya, setelah melakukan serangan balas terhadap Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa pada tanggal 29 Juli 1947, dikirim ke Filipina bersama Soenarjo dan Bambang Saptoadji, sebetulnya untuk mendapatkan Fighter Pilot Training. Direncanakan selesainya training tersebut kami masing-masing pulang membawa pesawat tempur P-51 “MUSTANG” untuk menghadapi Belanda. Sayangnya rencana tersebut tercium oleh pihak Belanda sehingga lewat pemerintahan Amerika Serikat mereka mendesak pemerintah Filipina untuk membatalkan rencana tersebut. Untuk mengisi waktu kami dimasukkan kuliah di FEATI INSTITUTE OF TECHNOLOGY jurusan aeronautical engineering.
Dalam bulan Maret 1948 kami semua dipanggil pulang oleh KSAU dan pada bulan Mei 1948 saya bersama Moeljono ditempatkan di Bukitinggi. Ketika mendapat panggilan KSAU untuk berangkat ke Jogja pada tanggal 28 November 1948, saya sedang menjabat sebagai Komandan Pangkalan Payakumbuh serta “water base” danau Singkarak.
Di Jogja saya dapat instruksi langsung dari KSAU sebagai berikut :
- Saya ditugaskan mengikuti penerbangan RI-001 ke Calcutta, India.
- RI-001 disiapkan untuk bila perlu mengungsikan Pemerintah Indonesia (Presiden + Kabinet) ke India.
- Untuk itu RI-001 harus mendapat camouflage painting serta dilengkapi dengan long range tanks, disamping overhaul mesin-mesinnya.
- Saya diminta menghubungi Opsir Udara II Wiweko Soepono yang pada saat itu sedang berada di New Delhi, India.
Pada tanggal 1 Desember 1948 pagi sebelum fajar, RI-001 “SEULAWAH” meninggalkan Maguwo menuju India lewat Jambi, Payakumbuh, Longka (Aceh) dan Rangoon.
Rincian penerbangan adalah sebagai berikut :
- Tanggal 1 Desember 1948 : Jogja-Jambi-Payakumbuh (pesawat terpaksa mendarat di Payakumbuh karena keadaan pangkalan Gadut tidak memungkinkan/rusak).
- Tanggal 4 Desember 1948 : Payakumbuh-Longka (Kotaraja)
- Tanggal 6 Desember 1948 : Longka-Rangoon (Burma)
- Tanggal 7 Desember 1948 : Rangoon-Calcutta (India)
C. Permasalahan yang kami hadapi di Calcutta
Setelah sampai di Calcutta ternyata kami harus menghadapi persoalan-persoalan sebagai berikut yang menyangkut RI-001 :
- Pekerjaan overhaul mesin serta pengecatan kamuflase dan pemasangan long-range tanks diperkirakan akan memakan waktu lebih dari dua minggu bahkan mungkin juga tiga minggu.
- Pemasangan long-rage tanks harus seizin Director General Civil Aviation, New Delhi.
Yang menyangkut muatan pesawat RI-001 : Barang dagangan berupa rempah-rempah seberat kurang lebih 2 ton yang dibawa oleh 3 orang pedagang dari Kotaraja (Sdr. Djuned cs.) yang akan mereka jual konon untuk membantu dana perjuangan.
Saya menghubungi Sdr. Wiweko di New Delhi untuk melaporkan persoalan-persoalan itu. Yang sangat merepotkan adalah urusan tentang muatan rempah-rempah tersebut karena dimasukkan tanpa izin. Saya dan Sdr. Soemarno terpaksa ikut membantu urusannya, mulai dari Bea Cukai, Imigrasi, Security Police serta beberapa kantor lainnya untuk izin penjualannya. Meskipun itu bukan tugas kami namun kami merasa berkewajiban untuk membantu, karena mereka bertiga tidak mampu mengadakan komunikasi dengan para officials karena kesukaran bahasanya. Ternyata karena liku-liku birokrasi yang berbelit-belit, waktu kami berdua banyak tersita olehnya.
(Sayangnya setelah urusan selesai dan mereka berhasil menjual dagangannya, mereka lalu memisahkan diri, pindah ke hotel lain dan seolah-olah tidak mau tahu dengan kami dan urusan RI-001).
Sementara itu kami telah menerima berita tentang jatuhnya Maguwo dan kota Jogjakarta ke tangan Belanda. Warta berita yang dapat kami dengar dan baca semuanya mengutip sumber-sumber dari fihak Belanda, yang menyatakan bahwa Pemerintah Republik Indonesia telah menyerah dan seluruh wilayah Republik telah dikuasai oleh Belanda. Dapat dibayangkan bagaimana terpukulnya perasaan saya dan Sdr. Soemarno terdampar di luar negeri dengan dana yang terbatas dan tanpa gambaran tentang masa yang akan datang. Harap diketahui bahwa umur saya waktu itu baru 21 tahun dan Sdr. Soemarno kurang lebih 25 tahun.
Namun kami tidak putus asa dan masih penuh semangat perjuangan, yang tercermin dalam surat saya ke Sdr. Wiweko pada tanggal 19 Desember 1948.
Atas himbauan saya dalam surat tersebut, Sdr. Wiweko dan Sdr. Soedardjono datang ke Calcutta. Setelah dirundingkan kami berempat, maka kami sepakat untuk meneruskan perjuangan kami sebagai unit AURI di luar negeri dengan memanfaatkan pesawat RI-001 “SEULAWAH” sebagai modal.
Untunglah bahwa tak lama kemudian muncul berita-berita tentang adanya perlawanan di mana-mana oleh Tentara Nasional Indonesia yang dibantu rakyat melakukan perang gerilya, sehingga motivasi kami untuk meneruskan perjuangan bertambah kuat.
Untung pula bahwa kami peroleh berita dari Kedutaan Besar RI di New Delhi bahwa kami akan diizinkan operasi di Burma karena pemerintah Burma membutuhkan transportasi udara dalam menghadapi pemberontak-pemberontak didalam negerinya yang berjumlah lebih dari 5 atau 6 kelompok, mulai dari yang extreem kiri sampai yang extreem kanan.
Dengan demikian terbukalah peluang bagi kami untuk memanfaatkan pesawat RI-001 “SEULAWAH” yang berarti “GUNUNG EMAS” sumbangan rakyat Aceh itu sebagai sarana untuk membantu meneruskan perjuangan Bangsa dan Negara Republik Indonesia membela dan mempertahankan kemerdekaannya.
(bersambung di bagian 2)
artikel terkait