SEJARAH KOTA
JULY 7, 2022
Mengenal Sejarah Singkat Kota Bekasi
Mari mengenal sejarah singkat Kota Bekasi yang dahulu kala merupakan ibukota kerajaan Tarumanegara di wilayah Jawa Barat.
Kota Bekasi adalah salah satu kota yang berada di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini adalah bagian dari kota metropolitan Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) dan merupakan kota satelit dengan jumlah penduduk terbanyak se-Indonesia. Kota ini sekarang adalah tempat tinggal kaum urban dan sentra industri.
Kota ini memiliki luas wilayah sekitar 210,49 km2 dengan batas wilayahnya di Utara : Kabupaten Bekasi, Timur : Kabupaten Bekasi, Selatan : Kabupaten Bogor dan Kota Depok dan Barat : Provinsi DKI Jakarta.
Jumlah Penduduk Kota Bekasi saat ini lebih dari 2,2 juta jiwa yang tersebar di 12 kecamatan, yaitu Kecamatan Pondok Gede, Kecamatan Jatisampurna, Kecamatan Jati Asih, Kecamatan Bantar Gebang, Kecamatan Bekasi Timur, Kecamatan Rawa Lumbu, Kecamatan Bekasi Selatan, Kecamatan Bekasi Barat, Kecamatan Medan Satria, Kecamatan Bekasi Utara, Kecamatan Mustika Jaya, dan Kecamatan Pondok Melati.
Nama Bekasi sendiri diketahui dari prasasti tugu yang berasal dari era Kerajaan Tarumanegara yang berasal dari kata “Chandrabhaga”, yakni nama sungai yang melintasi Bekasi. Kata Chandrabhaga kemudian dalam sehari-hari berubah menjadi Bhagasasi yang pengucapannya kemudian disingkat menjadi Bhagasasi atau Bekasi.
Dalam website resmi kota Bekasi, bekasikota.go.id, disebutkan bahwa Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri adalah sebutan Bekasi tempo dulu yang merupakan ibukota Kerajaan Tarumanegara (358-669). Kerajaan itu mencakup wilayah Bekasi, Sunda Kelapa, Depok, Cibinong, Bogor hingga ke wilayah Sungai Cimanuk di Indramayu Jawa Barat.
Menurut para ahli sejarah dan fisiologi, letak Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai Ibukota Tarumanegara adalah di wilayah Bekasi sekarang.
Dayeuh Sundasembawa merupakan asal Maharaja Tarusbawa (669-723 M), pendiri Kerajaan Sunda yang kemudian seterusnya menurunkan raja-raja sampai generasi ke -40 yaitu Ratu Ragumulya (1567-1579 M) Raja Sunda Kelapa (Disebut juga Kerajaan Padjajaran) yang terakhir.
Selain itu wilayah Bekasi banyak memberi informasi mengenai wilayah Sunda pada masa lalu, contohnya dengan ditemukannya empat prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Kebantenan.
Prasasti ini penting karena didalamnya mencatat keputusan dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, Jayadewa (1482-1521 M) yang ditulis dalam lima lembar lempeng tembaga.
Bekasi mempunyai julukan sebagai “Bumi Patriot”, yakni sebuah daerah yang dijaga oleh para pembela tanah air. Bekasi pernah tercatat sebagai bagian dari Batavia atau Jakarta sejak abad ke-16 hingga pertengahan 1950 sebelum kota dan kabupaten Bekasi berencana untuk melepaskan diri dari provinsi Jawa Barat.
Dalam website tribunnews, Sejarawan Ali Anwar menjelaskan bahwa Bekasi dahulu masih merupakan bagian dari DKi Jakarta. Bekasi masuk ke wilayah Jawa Barat melalui keputusan Pemerintah Pusat pada tahun 1950.
Ditambahkan olehnya bahwa pada abad ke 5 – 16 Masehi, Bekasi merupakan bagian dari wilayah kerajaan Tarumanegara dan Sunda Kelapa (Jakarta).
Di jaman penjajahan Belanda Bekasi masih masuk dalam wilayah Jakarta yang dahulu terkenal dengan nama Meester Cornelis atau Karesidenan Batavia.
Menurut catatan Wikipedia, pada tahun 1960 Kantor Kabupaten Bekasi berpindah dari Jatinegara ke Kota Bekasi (Jl. Ir H. Juanda, Kota Bekasi). Kemudian pada tahun 1982, saat Bupati dijabat oleh H. Abdul Fatah Gedung Perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi kembali dipindahkan ke Jl. Ahmad Yani No.1, Kabupaten Bekasi.
Pasalnya perkembangan Kecamatan Bekasi menuntut dimekarkannya Kecamatan Bekasi menjadi Kota Administratif Bekasi yang terdiri atas 4 kecamatan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1981, yaitu Kecamatan Bekasi Timur.
Kecamatan Bekasi Selatan, Kecamatan Bekasi Barat dan Kecamatan Bekasi Utara, yang seluruhnya menjadi 18 kelurahan dan 8 desa.
Peresmian kota administratif Bekasi sendiri dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 April 1982, dengan wali kota pertama dijabat oleh H Soedjono (1982-1988).
Pada perkembangannya Kota Administratif Bekasi bertumbuh dengan cepat. Hal ini ditandai dengan pertambahan penduduk yang cukup tinggi dan aktivitas perekonomian yang semakin tinggi. Sehingga status Kota Administratif, Bekasi pun kembali ditingkatkan menjadi Kotamadya (sekarang “Kota”) melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1996.
Untuk kulinernya, Bekasi sendiri mempunyai beberapa makanan khas yang menjadi favorit banyak orang seperti : sayur gabus pucung, bir pletok, bandeng rorod, kue rangi dan dodol Betawi.
related post