Sejarah Nasi Uduk Dalam Kuliner Nusantara

Sejarah Nasi Uduk Dalam Kuliner Nusantara

KULINER NUSANTARA

MAR 5, 2022

Sejarah Nasi Uduk Dalam Kuliner Nusantara

Sejarah Nasi Uduk Dalam Kuliner Nusantara
Nasi uduk di Belanda. Credit : Wikipedia Author : Takeaway

Sejarah nasi uduk dalam kuliner Nusantara yang menjadi salah satu makanan populer di Indonesia dengan citarasa wangi dan gurihnya.

Bagi Anda yang tinggal di sekitar Jabodetabek pasti sudah sering mendengar namanya nasi uduk. Penganan ini sangat banyak dan mudah di jumpai di Jakarta dan sekitarnya.

Nasi uduk adalah salah satu makanan khas lokal yang sangat terkenal dan gampang ditemui di Ibu Kota. Nasi ini dimasak dengan aneka bumbu yang diolah dan rasanya gurih.

Tapi tahukah Anda asal-usul dari makanan tradisional ini ?
Konon nasi uduk tercipta dari hasil pikiran Sultan Agung dari Mataram, yang terinspirasi setelah beliau menyantap nasi kebuli.

Dalam Babad Tanah Jawi, disebutkan bahwa Sultan Agung Mataram gemar makan “nasi Arab” yang tampaknya merujuk pada berbagai jenis pilaf atau nasi bergaya Arab. Hidangan nasi dengan sentuhan arab ini sering disebut nasi kebuli (populer di kalangan keturunan Arab di Indonesia) atau nasi briyani (hidangan Muslim India). Pada saat itu kedua hidangan tersebut paling umum dikenal di kalangan Muslim Jawa.

Dari situ kemudian sang Sultan mencoba memodifikasi untuk menciptakan “hidangan Arab” versi lokal. Dengan bahan-bahan yang berasal dari Nusantara ini ia bermaksud untuk meningkatkan kebanggan lokal dan mengurangi pengeluaran kerajaan karena bahan-bahan impor untuk membuat nasi Arab sangat mahal.

Wikipedia menuliskan bahwa awalnya Sultan Agung menyebutnya dengan nasi wuduk dari kata bahasa Arab tawadhu’ yang artinya rendah hati di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam dialek bahasa jawa nasi ini disebut sebagai uduk atau wuduk.

Setelah itu nasi uduk menjadi salah satu syarat utama dalam upacara atau acara-acara slametan dalam adat Jawa. Ritual ini adalah ucapan rasa syukur dan terimakasih yang sering disebut juga dengan banca’an (bancakan).
Sego Uduk atau nasi uduk kini bisa ditemui dalam berkat atau paket makanan yang berisi nasi, sayuran dan lauk pauk yang dibagikan setelah acara slametan selesai kepada para hadirin dan tetangga sekitarnya.

Sekitar tahun 1620-an nasi ini diperkenalkan oleh para pendatang dari jawa ke Batavia. Makanan ini kemudian menjadi hidangan yang populer di kalangan orang Betawi. Oleh mereka ditambahkan sentuhan Betawi dengan menambahkan semur jengkol.

Dari sini timbul kesan bahwa nasi uduk adalah makanan khas dari Betawi, padahal tidak begitu faktanya. Nasi uduk ternyata juga memiliki istilah dalam bahasa Belanda yang disebut dengan rijst vermengd met onrust van de liefde (disingkat jaloerse rijst).

Nasi uduk biasanya dihidangkan dengan sajian pelengkapnya yang berupa emping goreng, tahu goreng, telur dadar atau telur goreng yang teriris, abon kering, tempe, bawang goreng, ayam goreng, timun serta sambal kacang yang dihaluskan.

Dimasak dengan santan dan disajikan bersama aneka macam lauk, menu yang satu ini sangat mengenyangkan. Namun, nasi uduk bukan termasuk sarapan yang sehat bila dikonsumsi setiap karena kandungan karbohidrat di dalamnya yang tinggi yang berpotensi menyebabkan obesitas atau kegemukan.

Seperti dilansir dari website yesdok.com dalam sepiring nasi uduk terdapat 260 kalori yang terdiri dari 12,95 lemak, 32,84 gr karbohidrat dan 4,07 protein.
Ternyata selain nasi uduk, ada beberapa jenis kuliner yang mirip dengan nasi uduk juga di Indonesia. Salah satunya adalah nasi gemuk. Nasi gemuk bagi orang Jambi sering dijadikan menu sarapan seperti nasi uduk di Jakarta. Proses pembuatannya pun mirip seperti nasi uduk. Namun jumlah santan yang digunakan untuk memasak nasi gemuk lebih banyak sehingga rasanya cenderung lebih gurih ketimbang nasi uduk.

Selain itu, dalam ritual slametan di Indonesia selain memakai nasi uduk juga digunakan nasi kuning. Tetapi ada perbedaan bumbu yang digunakan diantara keduanya. Nasi yang berwarna kuning ini memakai bumbu yang salah satunya adalah daun pandan dan daun jeruk purut. Sementara untuk nasi uduk ada lengkuas, cengkeh dan bunga pala. Selain itu dalam nasi uduk juga ditambahkan santan, daun salam, serai dan juga kulit kayu manis untuk mendapatkan cita rasa yang gurih dan wangi.

Biasanya setelah mengkonsumsi nasi uduk ada “efek sampingnya” yaitu : mengantuk ! Kenapa kita bisa mengantuk setelah makan nasi uduk ? Dilansir dari website hellosehat.com, nasi uduk sendiri adalah sumber karbohidrat yang tinggi dan santannya mengandung lemak. Dari sini akan timbul asam triptofan dalam tubuh yang kemudian memicu rasa kantuk setelah makan.

Jadi, silakan menikmati nasi uduk tapi tetaplah ingat akan kesehatan Anda !

related post

Comments System WIDGET PACK