KEMERDEKAAN RI
NOVEMBER 21, 2021
Sejarah Singkat Perjoangan “Indonesian Airways” Di Burma – bag. 2
SOETARDJO SIGIT
Bagian kedua kisah perjuangan para perwira AURI mendukung kemerdekaan Indonesia di luar negeri tahun 1948. Ditulis langsung oleh pelaku sejarahnya, Soetardjo Sigit.
D. Penerbangan ke Rangoon, Burma serta persiapan pendirian Indonesian Airways.
Setelah semua pekerjaan pada pesawat RI-001 diselesaikan begitu pula segala urusan persiapan operasi di Burma dibereskan, maka berangkatlah kami ke Rangoon pada tanggal 26 Januari 1949. Tanggal inilah yang kemudian dijadikan “Hari Jadi” dari INDONESIAN AIRWAYS di Burma.
Setelah sampai di Rangoon, maka dengan bantuan sepenuhnya dari Sdr. Marjoenani, Kepala Perwakilan RI di Burma, Sdr. Wiweko berhasil menyelesaikan izin resmi dari pemerintah Burma serta persiapan-persiapan operasinya.
Enam hari kemudian, yaitu tanggal 1 Februari 1949, saya telah mengikuti charter-flight oleh Burmese Army ke Anisakan. Meskipun serba darurat, kami telah menapakkan langkah sebagai awal dari operasi Indonesian Airways di Burma. Kami belum punya kantor dan untuk akomodasinya pun kami dapat penampungan di rumah dinas merangkap kantor dari Sdr. Marjoenani. Namun demikian semangat kami tetap tinggi.
E. Operasi INDONESIAN AIRWAYS di BURMA
Pada dasarnya operasi penerbangan Indonesian Airways itu dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu:
- Government charterflights yang pada umumnya berupa penerbangan untuk keperluan angkutan bersenjata dan pemerintah Burma.
Untuk kebutuhan militer itu RI-001 dicharter untuk logistic flights, supply drops (baik “free-drops” maupun dengan parachute), trooptranspot, evakuasi dari yang terluka dalam pertempuran.
Kadang-kadang dicharter untuk VIP-flights (pada tanggal 24-2-1949 waktu kami mengantarkan menteri dari negara bagian Shan untuk meninjau daerahnya, kami tidak dapat mendarat di lapangan udara Loikaw karena ditembaki dari bawah. Untungnya pada saat tersebut Pak Menteri tadi sedang berdiri diantara tempat duduk Capt. Maupin dan tempat duduk saya didalam cockpit, karena tempat duduk yang beliau tinggalkan di cabin ternyata ditembus peluru pemberontak. Empat buah peluru menembus pesawat, sehingga kami kehilangan semua hydraulic fluid serta sebagian dari bahan bakar. Untung tidak terbakar dan dapat selamat kembali ke Rangoon).
- Charterflights komersial. Berhubung waktu itu pemerintah Burma hanya menguasai kota-kota dipantai Selatan, beberapa kota didaerah tengah serta beberapa kota didaerah Utara dekat perbatasan India dan China, maka satu-satunya alat transpot yang dapat diandalkan adalah pesawat terbang, karena jalan darat maupun jalan sungai dikuasai oleh kaum pemberontak. Maka tidak mengherankan bahwa semua kebutuhan hidup dari penduduk kota pantai maupun penduduk kota didaerah tengan dan daerah pedalaman (hinterland) hampir seratus persen tergantung dari transportasi udara, sehingga dua pola jenis barang yang harus kami angkut, yaitu :
- Dari kota-kota daerah pantai ke pedalaman berupa barang-barang kebutuhan hidup seperti kain dan pakaian, alat-alat rumah tangga serta obat-obatan.
- Dari daerah pedalaman ke kota-kota daerah pantai berupa produk pertanian dan peternakan, yang paling merepotkan ialah kalau kami harus mengangkut kambing-kambing atau ayam-ayam hidup, yang paling sengsara ialah kalau harus mengangkut cabai kering, karena debu dari sekian puluh karung cabai kering dalam pesawat dapat menyebabkan awak pesawat batuk dan bersin untuk waktu yang cukup lama dan mata yang berair karena pedih !!
Dengan berhasilnya operasi-operasi penerbangan tadi, Indonesian Airways makin maju dan dengan adanya permintaan yang meningkat maka diputuskan untuk membeli tambahan pesawat DC-3 dari Hongkong yang kami beri registrasi RI-007. Dengan adanya dua pesawat itu maka kami sebagai awak pesawat menjadi sangat kecapaian. Dengan 3 orang Captain pilots (Maupin, J. Tate dan Lad Moore), dua orang first officers (Soedarjono dan saya sendiri), serta dua orang radio-operators (Wollinsky dan Soemarno), pada waktu kami baru mempunyai satu pesawat, tugas kami dapat bergiliran, terbang dua hari sekali. Dengan adanya dua pesawat sekarang itu, kami harus terbang setiap hari.
Setiap hari kami berangkat jam 05.00 dari rumah dan pulang baru jam 20.00. Setiap bulannya kami harus menjalani “flight medical check” karena jumlah jam terbang kami masing-masing setiap bulannya melampaui limit 110 jam. Karena kurang tidur/istirahat, rasanya badan seperti melayang dan daya reaksi kami menjadi lamban (sluggish).
Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, maka diusahakan penambahan-penambahan awak pesawat yaitu : dua orang first officers (Bob Budiarto dan Syamsudin Noor, keduanya ditarik dari rombongan kadet yang sedang belajar terbang di India), dua orang radio operators (Soemadijo dan Soesatyo, keduanya dikirim oleh AURI dari Kotaraja).
Waktu INDONESIAN AIRWAYS merasa perlu untuk mengadakan pesawat yang ke-3 yaitu RI-009 (yang di”lease” dari Hongkong), maka diusahakan lagi penambahan awak pesawat : dua orang captain pilots (Kuhlmeier dan Bussart), dua orang first officers (Dick Soeharsono Hadinoto dan Lippy Soesatijo, keduanya dari India) dan dua radio operators Haryanto dan Soewastomo, keduanya dari AURI lewat Kotaraja).
Berhubung anggota AURI yang bergabung dalam INDONESIAN AIRWAYS sudah mencapai 12 orang maka diputuskan untuk menyewa rumah sendiri untuk dijadikan asrama. Dengan begitu kami pindah dari rumah dinas Perwakilan RI di Tamwe Road dan masuk di asrama di Ady Road. Begitu pula sudah dapat menyewa kantor sendiri.
F. Pendidikan penerbang di Burma
Dengan kedatangan tambahan 4 orang captain pilots lagi (Pottschmidt, H.H. Hicks, Cutburth dan Sailer), maka INDONESIAN AIRWAYS dapat melaksanakan rencana pendidikan 6 orang First Officers menjadi Captain Pilots dengan type-rating : C-47 DC-3 serta memperoleh PILOT’S LICENSE dari Civil Aviation Burma. Untuk itu diadakan :
-Latihan terbang berupa conversion flight training pada multi-engined aircraft untuk mendapat type-rating atas pesawat C-47 DC-3.
-Ground school yang meliputi pengetahuan tentang Meteorology, Navigasi, Rules of theAir, Teknik pesawat terbang yang diselenggarakan oleh instructor-instructor yang ditunjuk oleh Director of Civil Aviation, Burma.
Setelah perjoangan yang cukup berat kami berenam berhasil lulus dari ujian yang diselenggarakan oleh D.C.A. Sehingga berhasil memperoleh PILOT’S B LICENSE, BURMA (setaraf dengan SCPL) dengan type-rating : C-47 D.C. Types.
G. Sumbangan INDONESIAN AIRWAYS pada perjoangan Kemerdekaan Republik Indonesia.
- Dua kali menyelundupkan senjata, amunisi serta alat-alat telekomunikasi ke Aceh.
- Membiayai latihan pendidikan terbang bagi 20 orang Kadet AURI di India.
- Membiayai perwakilan-perwakilan RI di luar negeri a.l. di Timur Tengah, India, Burma, Thailand dan Singapore.
- Membiayai ongkos hidup serta uang kuliah seorang perwira AURI di FEATI INSTITUTE OF TECHNOLOGY, Manila, Filipina.
H. Penarikan kembali dari Burma setelah penyerahan kedaulatan.
Pada bulan Juni 1950, INDONESIAN AIRWAYS di Burma di likwidir dan diperintahkan kembali ke induknya, yaitu Angkatan Udara Republik Indonesia.
Pesawat RI-001 diserahkan kembali ke AURI.
Pesawat RI-007 disumbangkan ke pemerintah Burma.
Pesawat RI-009 yang disewa, dikembalikan kepada pemiliknya di Hongkong.
Sebagian dari Captain Pilots asing diajak ke Indonesia untuk membantu menyiapkan DINAS ANGKUTAN UDARA MILITER yang beroperasi dari Pangkalan Udara Andir di Bandung.
I. Penutup
Demikianlah secara ringkas disajikan kisah perjuangan INDONESIAN AIRWAYS di BURMA sebagai satu unit AURI yang melanjutkan perjoangan diluar negeri pada saat Belanda membanggakan kemenangannya atas Negara Republik Indonesia. Semoga kisah ini ada manfaatnya bagi generasi-generasi yang akan datang.
Bogor, 24 Juli 1995.
Catatan :
- Opsir Oedara Wiweko Soepono saat itu ada di India dalam rangka penugasan oleh KSAU.
- Opsir Oedara Soedardjono ditugaskan memimpin 20 orang kadet yang sedang dididik di India.
artikel terkait