SEJARAH KOTA
AUG 15, 2022
Kenali Lebih Jauh Sejarah Dan Budaya Kota Malang
Mari kita kenali lebih jauh sejarah dan budaya Kota Malang, kota terbesar ke-12 di Indonesia yang terkenal dengan apel dan hawa sejuknya.
Kota Malang adalah kota yang terletak di provinsi Jawa Timur, Indonesia sekaligus kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya. Selain itu Kota Malang adalah kota terbesar ke-12 di Indonesia.
SEJARAH
Kota Malang didirikan pada tanggal 1 April 1914 pada masa Pemerintahan Belanda dan E.K. Broeveldt menjadi walikota pertamanya. Malang terletak di dataran tinggi seluas 145,28 km² dan merupakan enklave Kabupaten Malang. Daerah Malang dijadikan wilayah gemente (kotapraja).
Bersama dengan Kota Batu dan Kabupaten Malang, Kota Malang merupakan kesatuan wilayah yang dikenal dengan Malang raya.
Bila ditarik jauh kebelakang lagi, Kota Malang sudah mengalami beberapa kali pergantian pemerintah. Pada Abad ke-8 M, Malang menjadi ibu kota Kerajaan Kanjuruhan dengan rajanya, Gajayana.
Pada saat Belanda masuk, pemerintah kolonial memusatkan kedudukannya di sekitar Kali Brantas. Di tahun 1824, Malang mempunyai asisten residen karena sudah menjadi afdeling dan ditetapkan sebagai kotapraja.
Ketika Jepang masuk ke kota Malang pada 7 Maret 1942, terjadi peralihan fungsi bangunan di kota ini. Rumah-rumah tempat tinggal orang Belanda diubah menjadi kantor ataupun markas tentara Dai Nippon, seperti bangunan Belanda di Jalan Semeru No. 42 yang dialih fungsikan menjadi gedung Kempetai Jepang.
Di kota ini terdapat berbagai macam suku bangsa dan budaya. Berdasarkan website resmi Pemerintah Kota Malang penduduknya berjumlah 843.810 jiwa pada tahun 2021 dengan mayoritas berasal dari suku Jawa kemudian Madura. Malang Raya merupakan kawasan metropolitan terbesar kedua di Jawa Timur setelah Gerbangkertosusila.
ETIMOLOGI
Nama Malang sendiri sebenarnya masih menjadi perdebatan oleh para ahli sejarah. Kata “Malang” sendiri muncul pertama kali pada Prasasti Pamotoh/Ukirnegara (sekitar 1198 M) yang ditemukan pada tanggal 11 Januari 1975 di Wlingi, Kabupaten Blitar.
Disini Malang merujuk pada daerah di timur Gunung Kawi. Nama ini telah digunakan sejak abad ke-12 Masehi namun tidak bisa dipastikan asal mula penamaan wilayahnya.
Hipotesis pertama merujuk pada sebuah bangunan suci bernama Malangkucecwara yang disebut dalam dua prasasti Raja Balitung dari Mataram Kuno di tahun 907 Masehi dan 908 Masehi.
Hipotesis kedua merujuk pada kisah penyerangan pasukan Kesultanan Mataram ke Malang pada tahun 1614 yang dipimpin oleh Tumenggung Alap-Alap. Dikisahkan bahwa Tumenggung Alap-Alap sempat berdisuksi dengan salah satu pimpinan pasukannya mengenai kondisi kota sebelum penyerangan dimulai.
Anak buah Tumenggung Alap-Alap itu menggambarkan bahwa warga dan prajurit di wilayah tersebut sebagai pasukan yang gigih menentang dan “menghalang-halangi” (malang dalam bahasa Jawa) kedatangan pasukan Mataram. Karena itulah setelah berhasil menaklukkan wilayah itu, pihak Mataram menamakan daerah itu dengan kata “Malang”.
KESENIAN DAN PERTANIAN
Malang memiliki kondisi alam yang indah, dikelilingi pegunungan dengan iklim yang sejuk dan udara yang bersih. Hal ini membuat wilayah tersebut cocok untuk bercocok tanam dan dipakai sebagai perkebunan.
Salah satu hasil panen dari alam yang terkenal dari kota Malang adalah apel. Kota ini dikenal sebagai penghasil apel terbaik. Daerah yang terkenal adalah yang terletak di dekat Gunung Semeru. Karena hasil perkebunan inilah Malang terkenal dengan julukan “Kota Apel”.
Selain hasil pertanian, Malang banyak memiliki budaya dan kesenian khas daerah. Misalnya seperti kesenian sakera, ganesa, prasasti turyyan, prasasti kemuning, tari topeng malangan, larung lojen dan lain sebagainya.
Dalam tari topeng malangan, topeng yang digunakan memiliki warna yang berbeda dan memiliki arti sendiri. Warna-warna tersebut yaitu merah, putih, kuning, hijau, dan hitam. Arti dari warna-warna tersebut, secara berturut-turut melambangkan keberanian, kesucian, kesenangan, kedamaian, dan kebijaksanaan.
KEUNIKAN LOKAL
Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh penduduk Malang adalah bahasa Jawa dialek Jawa Timur dan bahasa Madura. Untuk anak-anak mudanya mereka berbicara dalam dialek khas Malang yang disebut dengan ‘boso walikan’ yaitu mengucapkan suatu kata dengan cara terbalik. Contohnya : Malang menjadi ‘Ngalam”, arek Malang menjadi ‘kera Ngalam’.
Dengan berbagai macam suku dan agama di kota Malang, penduduk kota ini hidup rukun dan damai dalam kehidupan sehari-hari. Bangunan ibadah banyak berdiri sejak jaman kolonial seperti Masjid Jami, Gereja Alun-alun, Kayutangan dan Ijen serta Klenteng di Kota Lama.
Perekonomian kota Malang ditunjang dari berbagai sektor, seperti sektor industri, jasa, perdagangan dan pariwisata. Penyumbang terbesar adalah sektor perdagangan yang menyumbang sekitar 29% dari total PDRB Kota Malang. Salah satu perusahaan rokok yang terkenal dari kota ini adalah Bentoel.
Malang dikenal memiliki banyak sekali kampung tematik yang bernuansa pedesaan dan khas. Salah satunya yang paling terkenal adalah Kampung Wisata Jodipan (Kampung Warna-Warni), kampung warna-warni pertama di Indonesia ini menjadi salah satu destinasi favorit di Kota Malang.
Selain itu, ada juga Kampung Tridi yang terletak di seberang Kampung Warna-Warni yang terkenal akan karya seni mural di dinding-dinding perumahannya. Kedua kampung tersebut dihubungkan oleh sebuah jembatan kaca. Keduanya merupakan tempat selfie favorit para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
artikel terkait