Mengenal Asal Usul Ketupat Lebih Jauh

mengenal asal usul ketupat lebih jauh

KULINER NUSANTARA

DECEMBER 16, 2021

Mengenal Asal Usul Ketupat Lebih Jauh

mengenal asal usul ketupat lebih jauh

Mengenal asal usul ketupat lebih jauh, salah satu hidangan wajib pada Hari Raya Idul Fitri di Indonesia yang sudah menjadi tradisi.

Pada saat Hari Raya Idul Fitri, banyak sekali kunjungan silaturahmi diantara keluarga dan teman yang kita lakukan. Tentu kunjugan itu dibarengi dengan makan bersama. Salah satu hidangan yang wajib ada ialah “Ketupat”. Makanan ini menjadi hidangan wajib bagi masyarakat muslim Indonesia di setiap acara Halal-Bihalal.

Ketupat dimakan dengan bermacam lauk lainnya seperti opor ayam, sambal goreng kentang, telur bumbu petis maupun daging rendang. Semangkuk ketupat sayur mengandung kalori sekitar 93 kkal.

Menurut Wikipedia, ketupat adalah hidangan khas Asia Tenggara berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus terbuat dari anyaman daun kelapa muda. Lalu darimana asalnya ketupat itu sendiri ?

Para ahli sejarah mengatakan bahwa ketupat itu sudah ada sejak jaman Wali Songo. Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu wali memperkenalkan hidangan ini ketika berdakwah menyebarkan agama Islam di pulau Jawa sekitar abad ke-15 hingga ke-16.

Sunan Kalijaga mempopulerkan dua kali perayaan Lebaran, yaitu Lebaran hari raya Idul Fitri pada tanggal satu Syawal dan Lebaran Ketupat. Hari raya Lebaran Ketupat ini jatuh sepekan setelah Idul Fitri yang menjadi bagian dari tradisi Syawalan. Tuujuan Lebaran Ketupat adalah sebagai simbol kebersamaan dan menjalin silaturahmi.

Hermanus Johannes de Graaf, sejarawan Belanda spesialis sejarah Jawa mencatatkan dalam penelitiannya bahwa ketupat yang terbuat dari beras yang dibungkus daun kelapa pertama kali muncul di pulau Jawa sejak abad ke-15 pada masa kekuasaan Kerajaan Demak.Hal ini dicatat dalam penelitiannya Malay Annual.

Makna dari ketupat sendiri memiliki beberapa pengertian. Tapi yang paling umum adalah menyimbolkan dua hal yakni “ngaku lepat”, singkatan dari bahasa Jawa yang artinya mengakui kesalahan dan “laku papat” atau empat tindakan seperti dilambangkan dari empat sisi ketupat.

Satu sisi bermakna membuka pintu maaf bagi kesalahan manusia yang lain. Sisi yang kedua menyimbolkan kelimpahan dan sedekah bagi orang yang membutuhkan. Hal ini melambangkan adanya keseimbangan didalam hidup. Tradisi sungkeman yang sering dilakukan pada Hari Raya Idul fitri adalah perwujudan dari ngaku lepat bagi masyarakat Jawa.

Bahan dasar untuk membuat anyaman ketupat adalah daun kelapa yang masih muda atau janur. Cara membuatnya adalah dengan menggulung janur tiga kali pada tangan. Posisi pangkal janur harus menghadap keatas agar bentuknya proporsional. Langjah kedua adalah mengambil janur satunya lagi dan gulung sebanyak seperti yang pertama tadi di tangan yang lain, tapi kali ini dengan posisi pangkal di bawah. Harap diingat bahwa janur kuning ini hanya bertahan selama lima hari, lebih dari itu janur akan layu.

Untuk berasnya dicuci dulu hingga bersih lalu rendam dalam air bersih selama 3 jam. Beras yang digunakan adalah beras pulen seperti rojolele atau pandan wangi yang berwarna putih bersih. Campuran beras ini bisa ditambah dengan sedikit kapur sirih. Lalu ambil selongsong janur ketupat yang sudah disiapkan.

Pilih yang memiliki anyaman rapat dan teratur supay beras tidak jatuh tercecer ketika direbus. Kemudian masukkan beras sampai 2/3 bagian dari selongsong janur itu. Lalu masukkan ketupat yang sudah berisi beras itu kedalam panci dan direbus dengan api sedang selama 3-4 jam.

Selain di temui pada hidangan di hari-hari besar keagamaan Islam, ketupat juga banyak digunakan untuk pelengkap hidangan Nusantara yang lain untuk mengganjal perut, misalnya pada ketoprak, sate padang dan gado-gado. Dalam hal ini ketupat dipakai sebagai pengganti nasi agar terasa kenyang setelah disantap.

artikel terkait

Comments System WIDGET PACK